Syaithan itu baik loh!

Adakah seseorang yang belum pernah merasakan kebaikan dari syaithan? Jawabannya, hampir semua orang pernah merasakan kebaikan dari syaithan. Hanya sedikit sekali orang yang tidak mendapatkannya.

Syaithan menebarkan kebaikan lewat perasaan yang disebut CINTA. Bayangkan saja bagi orang yang sedang terbius oleh cinta, seolah daratan ini bagaikan padang bunga, sedangkan langit bagaikan lukisan indah yang menyejukan mata, serta segala sesuatu terasa nan indah. Itulah kebaikan syaithan! Dialah syaithan, yang telah memberikan rasa nyaman ketika ikhwan berada dekat dengan akhwat yang bukan makhromnya, begitu juga sebaliknya. Namun apakah kita sadar bahwasanya segala keindahan dan kenyamanan tersebut hanya menjerumuskan kita ke dalam perbuatan keji?.

Pada hakikatnya, perbuatan baik itu harus baik menurut Allah bukan menurut presepsi diri kita atau presepsi manusia, karena presepsi orang berbeda-beda seperti halnya rasa makanan. Tahu dan tempe, menurut lidah orang sunda adalah makanan yang enak, akan tetapi belum tentu lidah orang perancis berkata enak juga. Lantas mana yang benar? Kebenaran yang hakiki yaitu yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
Wahai saudaraku, tahukah tipu daya syaitan, yang berusaha menyesatkan anak adam dengan segala tipu muslihat. Mereka membuat keburukan terasa indah, maka dijadikanlah anak adam menganggap ibadah itu berat sedangkan maksiat itu indah, bahkan tsubhat [1] yang terbesar yaitu menjadikan maksiat yang dibalut oleh amal shalih. Tsubhat itulah yang diberikan kepada para aktivis dakwah, syaithan menjadikan niat mereka berbelok tanpa mereka sadari.

Berawal dari niat yang ikhlas untuk belajar atau berdakwah dijalan Allah, lalu bergabung dengan Unit Kegiatan Keislaman kampus, dengan misi memperbaiki diri dan peradaban. Namun yang menjadi permasalah, kebanyakan dalam kegiatan Unit Kegiatan Keislaman sering terjadi ikhtilat (bercampur baurnya ikhwan dan akhowat), sehingga secara terpaksa terjadilah komunikasi antara keduanya secara rutin dan kurang terbatasi karena tuntutan kegiatan dakwah.

Dari keadaan tersebut, syaithan masuk dan mulai menebarkan racun-racun yang terasa manis. Syaithan datang ketika mereka melaksanakan rapat sehingga terkadang dalam rapat tersebut banyak percakapan yang tidak ada dalam pembahasan rapat. Kemudian dijadikan mereka merasa nyaman, lalu syaithan masuk ketika pelaksanaan kegiatan, dijadikan kegiatan tersebut menjadi menyenangkan serta berkesan. Kemudian dijadikan ikhwan dan akhowat itu saling melengkapi dalam kegiatan dakwah tersebut.

Sungguh indah bukan main, bahkan tidak tampak sedikitpun terdapat sebuah dosa. Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.”[2]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani رحمه الله berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom (baik itu lewat alat komunikasi apalagi secara langsung) adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” [3]

Bukankah hadits tersebut sangat sering kita temui? Bukankah Jika kita beriman, maka kewajiban kita yaitu mendengar dan taat? Lantas kenapa kita menyombongkan diri dengan membuat alasan-alasan untuk membolehkan perbuatan tersebut? Atau kita menganggap berikhtilat adalah hal yang biasa?. Maka berhati-hatilah! Kemungkinan besar kita terkena duri dari racun-racun syaithan. Selayaknya kita senantiasa memohon pertolongan Allah agar racun-racun tersebut tidak menjadi cinta yang haram, karena hal tersebut lambat laun akan membuat kita lalai dari berdzikir kepada Allah, hingga syaithan mudah untuk mendorong kita kepada zina.

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٦
“Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fussilat: 36)

Ayyuhal Ikhwah, apakah kita hanya diam saja dan menikmati racun-racun dari syaithan? padahal syaithan adalah musuh yang hendak mencelakakan kita. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

Kemudian hendaklah kita melawan musuh kita dengan sungguh-sungguh, kita bentengi hati kita dengan dzikir, bersihkan pikiran kita dengan menundukan pandangan dan luruskan niat kita dengan ilmu.
Lantas bagaimana kita menghadapi problematika yang ada? Apakah kita tidak boleh mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa baik itu UKM Keislaman? Lantas bagaimana kita ingin belajar? Lalu bagaimana kita akan berdakwah?. Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita simak sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak berahi).” [4]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan dua solusi yang sangat jelas yaitu MENIKAH atau BERPUASA. Lantas mengapa kita masih memilih pilihan ketiga?. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

 

Penyusun: Arie Septiana
Editor: Selly L.C.
22 September 2014
@Banjaran rumah Bunda

[1] Perkara yang meragukan
[2] HR. Bukhari & Muslim
[3] Fathul Baari
[4] HR. Bukhari

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 3 = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>