Bungkus Permen Istimewa

Jika seandainya kita harus mengambil satu permen dari beberapa permen yang disuguhi oleh teman kita dengan bungkus yang berbeda, maka mana yang akan kita ambil, permen dengan bungkus yang sobek, atau permen dengan bungkus sekedarnya, atau permen tanpa bungkus? Atau permen dengan bungkus yang menempel kuat antara permen dan bungkusnya karena dalam bungkusnya tidak ada ruang udara sedikitpun akibat membias ataukah permen yang dibungkus dengan utuh dengan ruang beserta udara dalam bungkusnya sehingga bungkus tersebut masih membalon utuh? Orang yang menjaga kesehatannya, fitrahnya akan memilih permen yang terakhir. Hal tersebut merupakan perumpamaan seorang perempuan dengan pakaiannya. Karena perempuan yang istimewa terlihat dari pakaiannya yang menutupi aurat dengan sempurna.

Begitu juga dengan laki-laki yang menjaga kesehatan agamanya, mereka tidak akan tertarik oleh perempuan yang memakai jilbab akan tetapi lekuk tubuhnya masih terlihat apalagi yang tanpa berjilbab sepertihalnya permen diatas fitrahnya mereka akan memilih perempuan yang memakai jilbab syar’i .

Meskipun demikian terlontar sanggahan –sanggahan dari beberepa orang bahwasanya, “orang yang berjilbab juga banyak yang melakukan maksiat ko, karena jilbab itu tidak menentukan kesolihan seseorang, yang penting hatinya saja yang harus dijilbabi.”, maka kita jawab coba kita lihat FAKTA, perempuan yang berjilbab ataukah perempuan yang tidak berjilbab yang paling banyak menjadi wanita tuna susila? Lebih banyak mana perempuan yang berjilbab atau tidak berjilbab yang ada di club-club malam, bertato, mengkonsumsi minuman keras atau narkoba? Lalu perempuan mana coba yang lebih banyak bermaksiat?

Kemudian masalah kesolihan, setidaknya perempuan yang berjilbab tidak sombong seperti orang yang tidak berjilbab, kenapa demikian karena mereka mentaati perintah Allah ta’ala, bukankah kita sudah tidak tabu lagi tentang wajibnya berjilbab? Dan seperti yang telah kita ketahui bahwa wajib itu jika dilaksanakan akan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan akan mendapat dosa. Coba kita bayangkan dalam 1 hari ada berapa detik? Lalu sebulan? Kemudian 1 tahun berapa detik kah? Bukankah setiap detiknya kita akan mempertanggungjawabkannya di akherat kelak? Berapa detik kah kita berdosa kepada Allah karena enggan untuk berjilbab? lantas kenapa masih tidak berjilbab?

Demikian kasihsayang yang penulis sampaikan, semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita semua, serta meneguhkan hati kita agar senantiasa ikhlas dan khusyu dalam beramal. Solawat serta salam kepada orang yang paling sayang kepada kita dan kewajiban kita harus menyayanginya melabihi orangtua kita bahkan diri kita sendiri, yaitu nabi Muhammad solallohu a’laihi wa salam.

 

 

@kontrakan idaman penuh cinta, Lembang
11 Oktober 2014
Penulis: Arie Septiana

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 9 = 14

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>