Sekilas Sejarah Mimbar Masjid

Awalnya, masjid tidak memiliki mimbar tempat Nabi berpidato kepada orang banyak. Memasuki tahun ke-7 dan ke-8 Hijriah, ketika kaum muslim membludak dan memadati masjid, beberapa sahabat antara lain Sa’d ibn Ubadah dan Tamim al-Dari mengusulkan agar dibuat tempat khusus untuk Nabi berdiri sehingga kelihatan sampai ke belakang. Maka pada tahun ke-7 atau ke-8 Hijriah beliau mengirim utusan kepada seorang perempuan untuk menyampaikan pesan: “Suruhlah budak Najjarmu membuatkan aku penyangga tempat aku duduk kala berbicara kepada banyak orang.”

Titah Nabi disambut antusias oleh si Najjar. Dibuatlah sebuah mimbar dari pohon tamaris Ghabah (nama tempat dekat Madinah). Setelah rampung, Nabi menunjuk tempat yang pas untuk mimbar itu. Ada tiga undak di mimbar itu, dan Nabi duduk di undak ketiga.

Sebelum itu, Nabi biasa berpidato dengan bersandar pada batang kurma di masjid. Begitu beliau pindah ke mimbar, batang kurma itu menjerit layaknya seorang bayi, atau seekor unta yang dipisah paksa dari anaknya. Beliau lalu turun, meletakkan tangan di atasnya, baru diamlah ia.

 

Referensi:
Abazhar, Nizar. 2010. Ketika Nabi di Kota. Jakarta: Zaman

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 − 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>